KENALAN DULU
Namaku Ica, ini tahun 2016 bukan?
berarti usiaku kini hampir 22 tahun. Aku anak ketiga dari lima bersaudara.
Kakak tertuaku sudah meninggal dunia tahun 2003, dia laki-laki dan aku rindu!
Kakak keduaku perempuan, dan aku memiliki 2 orang adik laki-laki. Aku tinggal
di salah satu kecamatan di Indonesia. Aku sekarang melanjutkan sekolahku di salah
satu Universitas di daerah Tangerang di jurusan Sastra Inggris, yaa... semoga
saja bermanfaat kelak. Doakan.
Aku tinggal bersama keempat saudara
kandungku, lengkap dengan kedua orang tuaku. Ibuku keturunan Chinese-Palembang, sedang Ayahku, asli
terlahir sebagai orang Sunda. Dan aku, aku kelahiran Tangerang Selatan,
berdarah Sunda-Palembang-Chinese.
Masa kecilku dibahagiakan oleh kedua orang tuaku juga kakek nenekku, oma opaku
dan saudara-saudaraku, tapi masa dewasaku, aku dibahagiakan oleh kawan-kawanku
dan Dia, (seseorang yang selalu istimewa bagiku.)
Aku memiliki kekasih yang hubungannya
sudah cukup lama kujalanin dengannya. Kira-kira, kini sudah hampir 5 tahun,
lah. Kami menjalani hubungan ini dari semasa SMK dulu. Dan kisahnya akan ku
ceritakan semampuku di dalam buku ini. Doakan semoga aku tidak lupa
bagian-bagiannya.
Akan kumulai dari mana ya ceritanya?
Hmm. Tapi sepertinya dari tadi aku sudah memulainya. Hehehe.
PKL
PKL (Praktek Kerja
Lapangan) merupakan salah satu kegiatan wajib di SMK, yang juga merupakan salah
satu persyaratan untuk lulus dari sekolah kami saat itu. PKL di sekolahku wajib
dijalani oleh setiap siswa yang duduk di bangku kelas 2. Saat itu, aku
merupakan utusan sekolahku untuk mengikuti kegiatan di tingkat Kota Tangerang
Selatan sebagai Paskibraka di tahun 2010. Dan dikarantina sampai pertengahan
bulan Agustus tahun itu.
Hari itu hari pertama aku
masuk sekolah, setelah menjalani karantina tersebut. Aku kembali ikut kegiatan sekolah
seperti biasa, pukul 7.15, aku sudah sampai di sekolah, dan sengaja ingin
kuberi kejutan pada teman-temanku akan kehadiranku. Saat itu aku memiliki
sahabat dekat, Andin namanya, dia yang paling dekat denganku.
Sesampainya aku dikelas,
kami (aku dan Andin) berpelukan dan saling bercerita satu sama lain. Andin bercerita
baru saja dia jadian dengan Yoga. Aku turut senang. Hari itu Andin
memberitahuku untuk segera mencari Instansi atau Industri yang siap untuk
dijadikan tempat PKL. Lalu kutanya Andin, apakah dia sudah memiliki teman untuk
PKL bareng.
“Andin, kamu sudah dapat
tempat PKL?” tanyaku.
“Sudah, bulan Februari aku
sudah mulai PKL.” Jawabnya “tadinya aku mau ajak kamu untuk gabung denganku,
tapi aku ragu kamu datang. Jadinya aku ajak Anty”
“Oh begitu ya? Iya. Ya
sudah gak apa. Nanti kucari teman yang lain” ujarku. Meskipun sebetulnya sedih
tidak bisa berbarengan dengannya nanti. Tapi ya sudah tak apa. Hehehe.
Malamnya aku dan Andin sms-an.
Kami saling melepas rindu.
“Kira-kira siapa ya teman
yang belum mendapat tempat PKL? Ingin kuajak bareng” tanyaku.
“Hmm ... Coba kamu tanya Iwan. Sepertinya dia masih bingung mau
PKL dimana.” Jawab Andin.
“Hm ... begitu ya? Oke
nanti ku tanya” ujarku “Kamu lagi apa?”
“Aku lagi sms-an juga nih dengan Fadlan. Dia melucu terus sedari
tadi, aku gak bisa berhenti ketawa, hahaha”
jawab Andin.
“Fadlan? Teman sekelas
kita? Oh kamu dekat ya dengan dia” tanyaku penasaran.
“Lumayan. Dia baik. Oh iya coba kamu tanya dia aja. Dia juga lagi
bingung mau PKL ikut siapa.”
Seketika Andin memberiku
nomor handphone Fadlan. Tapi aku
teringat tadi Andin bilang Iwan pun belum memiliki teman PKL. Dan langsung ku
sapa Iwan lewat sms untuk menanyakan PKL. Tetapi Iwan sudah memiliki tempat PKL
dengan temannya.
Aku belum sms Fadlan.
Karena ku fikir itu sudah larut malam, mungkin bisa kapan-kapan. Kalau ingat.
Keesokan harinya Andin duduk
denganku di kelas seperti biasa. Kami mengobrol sambil kusalin mata pelajaran
yang tertinggal saat aku mengikuti karantina kemarin, dari buku catatan Andin.
Kemudian Andin tanya
sesuatu padaku.
“Gimana? Sudah kamu tanya Fadlan
dan Iwan?”
“Aku baru tanya Iwan,
belum tanya Fadlan, nanti sajalah, kalau sempat”
“Ya sudah kalau begitu.”
“Iya aku mau ke salah satu
Instansi di daerah Setu, mau minta antar Papahku, mungkin besok.”
“Oh begitu? Bagus deh,
semoga disana masih bisa ya?!”
“Iya. Do’akan.”
“Iya.”
Lalu kami melanjutkan
pelajaran kami dikelas sampai tiba waktu pulang.
Keesokan harinya, aku
pergi ke pusat teknologi yang berada di daerah Kecamatan Setu, di Tangsel. Aku tanya
ke satpam penjaga, dimana biasanya siswa sepertiku yang ingin PKL mencari
tempat PKL. Dan beliau bilang di gedung nomor 102. Lantas aku minta papahku
untuk mengantarku mencari gedung bernomor 102.
Sesampainya disana,
ternyata aku bertemu dengan salah satu guruku (namun aku belum pernah diajar
olehnya) yang juga bekerja di Instansi
tersebut selain beliau menjadi guru di sekolahku.
“Heh, bapak? Bapak kok
bisa ada di sini? Tanyaku.
“Iya. Bapak juga bekerja
disini, selain ngajar di sekolah, hehehe.” Jawabnya “ mau apa ke sini?”
“oh begitu ya pak?! He he
he he. Saya mau tanya, apa bisa saya PKL disini?”
“Bisa!” Jawabnya langsung
“Nanti bapak yang bimbing kalau jadi PKL disini.”
“Wah! Senang bisa
dibimbing Bapak. Kapan saya bisa PKL di sini pak?”
“Sekarang ini sudah diisi
oleh siswa sekolah lain, mungkin Februari hingga Maret baru kamu bisa PKL di
sini, ya?!”
“Yes!” (terlalu
bersemangat) “Iya pak. Kalau begitu saya minta nomor telepon bapak, boleh?”
“Boleh.”
Beliau adalah Pak Rudi,
guru baik hati yang mengajar mata pelajaran komputer di Program Studi
manajemen. Tentu saja aku tidak akan diajar olehnya di sekolah, aku kan masuk
ke dalam program studi teknik komputer dan jaringan, he he he.
Sebelum aku meninggalkan
kantor tersebut, Pak Rudi menyampaikan hal lain kepadaku.
“Oh iya, kalau ada kawanmu
yang belum dapat tempat PKL, ajak dia ke mari. Gabung denganmu di sini.”
“Oke pak!” jawabku tegas.
“Terima kasih ya, Pak.”
“Iya. Sama-sama.” jawabnya
sambil berlalu kembali ke ruang kerjanya
Di jalan pulang, aku jadi
terfikir kata Andin kemarin. Dia bilang Fadlan belum ada tempat PKL. Jadi,
mungkin sebaiknya, nanti, ku sms dia, untuk kuajak PKL bareng denganku di sana.
Sesampainya aku di rumah,
aku langsung istirahat di kasurku. Dan teringaat untuk sms Fadlan untuk
mengajaknya PKL bareng. Hari itu sekitar pukul 5 sore.
Dan akupun mulai menyapa
dia di sms.
“Hallo? Ini Fadlan ya?”
“Iya. Ini siapa ya?”
Tanyanya kebingungan.
“ini Ica, kamu sudah punya
teman untuk PKL belum, Fadlan?
“Ica mana ya? Hahahaha temanku yang namanya Ica banyak.” Dia menjawab tapi tidak menggubris pertanyaanku, iya, salahku
juga tidak memperkenalkan diriku dengan jelas.
“Oh. hehehe. Maaf ya. Ini
Ica temen sekelasmu.” Jawabku lembut. (meskipun tak akan terlihat juga dari
sisi mana kelembutannya).
“Oh, kamu! Ku kira Ica yang mana. Hahahaha”
“Hehehe. Jadi bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana? Hahahaha”
“Ih kamu ketawa terus?
Memangnya ada yang lucu ya? Itu tawaranku untuk PKL bareng aku, bagaimana?”
“Hahahaha.. aku memang begini orangnya. Maaf ya kalau risih. Hmm
... kayaknya kamu tadi belum ajak aku
deh, kamu kan baru tanya aja. Hehehe.”
“He? Memang ya? Hahaha.
Maaf (lagi) aku lupa.” Aku jadi malu, duh. “kalau gitu, kamu mau gak PKL bareng
aku? Di salah satu Instansi di saerah Setu.”
“Hmm... gak apa-apa.
Hehehe. Hmm aku juga masih bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Bingung mau ikut yang mana, karena lebih dari tiga orang udah
ajak aku bareng mereka, kamu yang keempat! Hahahaha.”
“Hahahaha. Laris ya kamu?!”
“Iya dong! Hahaha. Nanti ku kabari lagi ya, Ca.”
“Oke deh, Lan.”
Aku jadi kefikiran apa
yang Andin ucapkan waktu itu, tentang Fadlan. Pantas saja Andin bilang Fadlan
itu lucu. Meskipun harusnya itu terlihat aneh bagiku, bukan justru lucu. Gimana
tidak? Dia selalu tertawa tiap kali membalas smsku.
“Ah sudah sudah! Kenapa
jadi mikirin dia! Biar besok ku sms lagi dia. Untuk ku pastikan apa dia mau
ikut PKL denganku atau tidak.”
Aku selesaikan hariku itu,
sampai esokan harinya aku kembali ke sekolah. Menemui Andin,dan Anna.
Ku sapa mereka berdua
sebelum beranjak dari kursi temanku yang lain untuk kembali duduk di kursiku
karena pelajaran akan segera dimulai.
Jam istirahat tiba, dan
akupun tetap di kelas karena sedang malas jalan ke kantin sekolah.
Sendirian di ruang kelas
buat aku jadi terfikir Fadlan. Ku fikir-fikir, dia tampan juga, hahaha. “Aduh!
Kenapa sih aku ini?!”
Omong-omong, dari teman-teman sekelasku ini, sudah banyak yang
ketahuan suka padanya. “Ah! Dia biasa saja! Tidak terlalu menarik. Tapi kenapa
banyak yang suka dengannya ya?” “sudahlah tidak usah difikirkan”
Tak lama kulihat
teman-temanku beriringan kembali ke kelas, untuk melanjutkan pelajaran hingga
jam pulang sekolah.
Dan ketika bel sekolah
berdering menunjukan waktu pulang sekolah, aku langsung pulang dengan Anna,
karena rumah kami searah.
SMS-AN
Sesampainya aku di rumah,
aku langsung beristirahat di kamarku sambil menyantap makan siangku yang sudah
disiapkan Mamah.
Lantas teringat aku akan
sms Fadlan untuk menanyakan kepastian dia ikut PKL denganku atau tidak.
Sebelumnya, akan kuberi tahu, memang kami ini satu kelas, tapi dia selalu
berkumpul dengan teman-teman dikelasku yang berkelamin laki-laki. Jadi aku
malas kalau harus tanya dia di sekolah. Lagi pula kami tidak dekat, juga tidak
pernah ngobrol bareng dimana pun, apapun, dan kapanpun itu secara langsung.
Hanya pernah di sms seperti ini.
“Oh iya! Bertele-tele
sekali aku ini. Aku sms dia dulu yaa..!”
“Hallo Fadlan.” sapaku di
sms.
“Hallo ca!” jawabnya semangat
(meskipun aku tidak tahu bagamana bisa aku bilang dia jawab dengan semangat,
hahaha. “Ada apa?” lanjutnya.
“Mau tanya soal PKL. Aku
di minta Pak Rudi untuk ajak satu atau dua teman untuk bergabung bareng aku,
kamu mau?” itu kedua kalinya aku menanawarkan hal yang sama.
“Mau gak yaa?” balasan dia seolah
bertanya pada dirinya sendiri. “Hahaha.”
“Ih? Hahaha. Jadi mau enggak? Huh!” lama-lama kesal juga.
Sabaarrr!
“Hehehe. Aku sudah diajak Arfan dan Ronny lebih dulu, Ca. Maaf ya?
Aku gak enak kalau harus nolak ajakan mereka.”
“Oh begitu..? Okelah. Gak
apa-apa. Aku juga ditemani dengan anak kelas 2 TKJ 1, dua orang.”
“Oh hehehe. Bagus deh.”
jawabnya sambil (mungkin) merasa tidak enak padaku. “Lagi ngapain Ca?”
Membaca kalimat pertanyaan
yang diajukan Fadlan, membuatku bingung. Antara menganggap itu pertanyaan
lumrah, atau sok akrab ya? Mengingat kita tidak dekat sama sekali. “Tak apalah.
Hitung-hitung ada teman mengobrol.”
“Lagi tiduran aja nih. Sendirinya?” jawabku santai.
“Aku lagi sms-an sama kamu, hahaha.”
“Hahaha. Kamu ini bisa
saja”
Lalu kami sms-an sampai
larut malam. Pastinya tanpa aku sadari kalau hari itu sudah gelap. Sepanjang
sore hari hingga larut malam tadi kami terus sms-an sembari sesekali melakukan
kegiatan lain seperti makan malam dan mandi yang mengharuskan kegiatan sms-an
tersebut ter-skip.
Menurutku, dia orang baik.
Dan dia lucu, juga asik. Bahkan sangat asik untuk diajak jadi teman mengobrol.
Hehehe. Aku senang mengobrol dengan dia.
Meskipun hanya lewat sms, karena aku malu kalau harus mengajaknya mengobrol di
kelas.
Takut karena yang suka
sama dia kabarnya ada banyak, dari kelasku. Jadi aku takut membuat mereka yang
aku tidak aku ketahui namanya menjadi risih akan sikapku. Jadi lebih baik aku
tidak perlu menyapa Fadlan di sekolah.
Itu hanya sedikit
pandanganku terhadap Fadlan. Menurutku dia berbeda dengan anak laki-laki yang
lain seusianya. Dimana yang lain justru memanfaatkan masa remajanya dengan
hal-hal ‘aneh’ cenderung negatif menurutku seperti tawuran antar sekolah,
merokok, berjudi dan lain hal. Fadlan justru tidak merokok, dia pernah cerita
beberapa tahun setelah kami dekat.
“Kamu pernah merokok?”
tanyaku.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu SMP.” Jawabnya “Tapi aku
gak suka. Enggak enak! Dan aku harus bohong ke ibuku kalau aku
merokok waktu itu, karena ibuku enggak tau.”
“Oh begitu... Mau merokok
lagi gak?”
“Enggak ah! Gak punya
banyak uang untuk beli rokok. Mending aku makan bubur ayam. Hahaha”
“Hahaha. Dasar kamu.
Dia memang begitu.
Hidupnya seperti tak ada beban sedikitpun. Oke lanjut lagi ke cerita tadi.
Fadlan memang beda dari
yang lain. Dan setahuku, dia tidak punya pacar deh, untuk sekarang ini. Tapi
entahlah. Hehehe.
Semakin lama semakin
banyak tanggal di kalender yang mampu aku lalui. Dan sejak itu, aku merasakan
hal yang aneh antara aku ke Fadlan. Eh bukan! Tapi antara perasaanku terhadap
Fadlan. Iya... Aahh... Aku merasa nyaman mengobrol, bercanda, tertawa, juga
menceritakan hal-hal lain tentangku juga tentang dia. Meskipun sebenarnya
banyak cerita dari aku dan dia via sms yang aku skip di sini.
“Iya! Aku nyaman. Tidak
tahu apakah arti dari kata nyaman ini termasuk ke dalam kategori ‘suka’ atau...”
Aku mau tidur.
Besok pagi harus segera kembali ke sekolah, jadi aku
harus tidur. Tak apa ya kalau ceritanya kuteruskan besok? Kamu pasti tidak akan
mau tanggung jawab kalau aku terlambat besok.
Hari ini aku bergegas ke
sekolah, tapi sepertinya aku akan terlambat. Dan benar saja! Sesampainya aku di
sekolah, gerbang sudah di kunci. Dan aku tidak boleh masuk bersama beberapa
siswa yang memang sudah biasa terlambat, lainnya.
Ya sudah mau diapakan lagi?
Lebih baik aku ke kantin. Di sekolahku, kalau ada siswa yang terlambat datang,
akan di suruh tunggu di luar gerbang sampai mata pelajaran pertama selesai.
Tapi tak sedikit yang memilih untuk pulang. Aku sih tidak akan mau pulang. Bukan
karena terlalu rajin sekolah, tapi rumahku jauh sekali dari sekolah. Harus dua
kali naik angkot.
Jadi lebih baik kalau aku
tunggu saja di kantin. Sesampainya di kantin, aku membeli jajanan yang kumakan
habis sebelum bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
Ketika di kantin tadi, aku
dihampiri guru BP yang baik hati (menurutku) namanya Ibu Sri, Beliau juga
mantan wali kelasku waktu aku duduk di kelas 1 SMK.
Beliau menegurku karena aku memakai
rok pendek selutut. Disekolahku dilarang memakai rok sebatas lutut bagi siswi
perempuan. Kata beliau harus ganti jadi rok panjang. “Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Kayaknya sedari
dulu pun aku sudah memakai rok ini saat beliau masih jadi wali kelasku. Kenapa
tiba-tiba jadi ada peraturan aneh ini? Masa aku harus pakai rok panjang dengan
baju SMK lengan pendek?? Ih! Siapapun yang memberi ide ini ke kepengurusan
sekolah, aku yakin selera fashionnya
rendah! Jelaslah tidak pantas jika dicocokan.”
“Iya bu, nanti, besok saya
ganti dengan yang panjang. Hehehe.” Untunglah Bu Sri ini baik, meskipun beliau
menjabat sebagai guru BP. Tapi beliau sudah CS
denganku. Hehehe. Aku murid kesayangannya.
Bahkan saat duduk di kelas
1, aku tidak pernah disebutkan namanya ketika beliau sedang mengabsen nama kami
semua di kelasnya, karena menurut beliau, dengan melihatku saja cukup untuk
mengabsenku, tanpa harus berteriak memanggil namaku.
Mungkin saat ini beliau
masih mengajar di sana. Semoga.
Berhubung kemarin itu hari
sabtu, jadi hari ini libur sekolah. Hehehe. Aku senang ini hari minggu. Itu
artinya, aku bisa bermalas-malasan seharian di rumah. Hahahaha.
“Hmm, aku jadi kepingin
sms Fadlan. Ingin ngobrol dengannya seperti biasa. Tapi malu gak ya kalau aku
sms dia duluan? Ah tak apalah. Aku sms aja. Hehehe.”
“Fadlan?”
“Iya? Siapa ya?”
jawabnya cepat. “Fadlannya enggak ada.
Ada perlu apa?” aku kaget dapat sms seperti itu dari hp Fadlan. Jangan-jangan itu pacarnya?!! Aduh mampus aku!
“Eh maaf. Enggak kok gak
ada apa-apa. Maaf ini siapa ya?”
“Ini Fadlan. Hahahaha”
menyebalkaaaaaaaaaaaaaann!!! Membuatku
kaget saja dia ini. Harusnya aku sudah biasa dijaili olehnya. Tapi sial kali
ini aku kena lagi!
“Heh! Kamu ini. Aku kira
siapa. Bikin kaget aja! Hahaha” aku tidak tahu kenapa aku jadi ikut tertawa,
padahal harusnya bukan itu yang aku ucapkan. Harusnya kesal.
“Hehehe. Biarin! Biar seru”
katanya, santai. “kamu lagi apa, Ca?”
“Aku lagi sebel sama kamu
sebenernya, tapi aku malas sebel sama kamu. Jadi aku sekarang lagi nonton tipi
aja dirumah.”
“Sambel?”
“Sebel!”
“Oh, sembel,”
“Hahahaha bodo amat!”
“Sebel ngapain? Hahaha. Jangan sebel-sebel sama aku nanti suka
loh!”
Heee kok dia bicara
begitu? Memangnya teori dari mana kalau aku sebal sama dia bisa jadi suka??
“Gak apa-apa. Hmm. Kamu
sendiri lagi apa Lan?”
Eh paling dia mau balas : Lagi
sms-an sama kamu, Ca. Hahaha ketebak!
“Aku lagi nafas aja nih, Ca. Takut kelupaan. Hahaha”
“Hahahaha kamu ini melucu
terus?“ jadi gemes! Ssstt.. jangan bilang padanya! Hehehe.
“Lucu? Memangnya aku badut?”
“Ih Badut itu serem tau!
Sama sekali gak lucu.”
“Badut itu lucu. Kayak nyamuk.”
“Hahaha. Kok nyamuk sih?”
“Tuh buktinya kamu ketawa? Berarti kan nyamuk itu lucu. Hahaha”
“Hahahaha aku tertawa
bukan karena nyamuk.”
“Terus karena apa?”
“Kamu.”
“Lah? Aku kan bukan nyamuk.”
“Hahahaha”
Entah sudah hari keberapa
ini aku sms-an dengannya. Aaahhh! Aku nyaman dengannya.
Dia asik, seru,
menyenangkan, dan selalu menularkan energi positif padaku. Mungkin ini yang
dirasakan oleh beberapa orang yang suka
padanya. Tapi aku tidak peduli kalau harus saingan dengan mereka, hahaha. Toh
aku juga tidak terlalu berharap untuk jadi pacarnya. Tapi kalau dia dan aku
berjodoh, kau mau bilang apa?
Aku sih mau jadi pacarnya,
tapi tidak mau bilang duluan, juga tidak mau memaksa. Biar saja seperti ini.
Aku nyaman. Hehehe.
Setelah semakin dekat
dengannya, aku pun bercerita banyak. Tentangku, keluargaku, tentang
sahabat-sahabatku, dll.
Sudah ah! Aku ceritakan
dia terus hari ini. Aku mengantuk. Aku tidur dulu ya!
BERSAMBUNG..!!!


Cieeeeee aku jadi baca semua nya , haha padahal satu sekolah waktu SMP ya tapi ko kamu gak deket sama dya ����
BalasHapusBukan gak deket, tapi gak kenal hehehe
BalasHapus