Ayah

by 01.56.00 0 comments

Aku anak ketiga dari lima bersaudara.
Kakak pertamaku seorang laki-laki yang sudah lama meninggalkan kami disini.
Kakak keduaku perempuan yang memiliki (sedikit) kemiripan dengan wajah dan suaraku. Bisa dibilang kami adalah satu-satunya yang paling memiliki kemiripan dari segi fisik dibanding saudara-saudara kami yang lainnya.
Aku anak ketiga yang keras kepala, menjalankan segala yang sudah ku fikirkan sendiri.
Adik pertamaku laki-laki yang juga anak keempat di keluarga kami bisa dibilang anak yang sangat diam. Bahkan Ibuku sering bilang "harus cubit dia dulu, baru dia bersuara".
Adik terakhirku juga seorang laki-laki yang kelahirannya tidak terlalu dinantikan tapi menjadi anak yang paling disayang di keluarga kami karena manisnya anak ini.
Aku memiliki Ayah yang cukup 'keras' terhadap anak-anaknya ketika ia sedang mendidik.
Dan Ibuku.. Ibu yang saaangaaaat sabar sangat mampu mengimbangi Ayahku yang 'keras'.

Ya, Ayahku memang mendidik aku dan saudara-saudaraku dengan 'keras'.
Tapi aku sangat dekat dengan Ayahku.
Bahkan sampai aku duduk di kelas 4 SD aku masih tidur dengan Ayahku. Aku tidak bisa tidur kalau tidak dengan Ayahku. Ayahku membuat sugestiku akan malam yang gelap dan seram menjadi aman dan damai.
Kini Ayahku sudah mulai menua. Dan aku beranjak dewasa. Rasanya ingin sekali kembali ke masa itu. Masa dimana aku dan Ayah tidur bersama, dimana aku merasa Ayah adalah pahlawan yang takkan pernah mati dan terus berjuang mengusir rasa takutku pada gelap.
Kini saat aku memiliki kesibukanku sendiri, dunia yang menunjukan kuasanya untuk berputar.
Ayah sering sekali protes ketika aku tidak memiliki waktu untuk keluarga. Ayah memang sedikit tempramental, menyampaikan segala yang tidak sesuai dengan nada tingginya. Dulu, Ayah yang sering menolakku ketika aku minta ditemani olehnya. Tapi sekarang, aku yang tidak punya waktu banyak untuknya. Terlebih lagi aku harus bekerja dan kuliah saat ini. Belum mampu aku mewujudkan yang Ayah ingin dariku. Menyesal rasanya ketika melihat raut wajah Ayah yang dikelilingi keriput halus.

Tunggu Ayah..
Tunggu aku..
Akan aku bawa bongkahan kebahagiaan sampai kau yakin kau takkan pernah lupa akan hal itu.

Bachtiar Effendi
Ayah yang selalu menghapus gelapku, membentakku saat aku mulai nakal.
Aku rindu Ayah.

- RRD

Resiskaerde

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 comments:

Posting Komentar