29 Desember 2022 pukul 22.04, traumaku kembali menyapa. Rasa sesak di dadaku semakin kuat. Aku akan coba membohongi diriku untuk pertama kalinya, semoga aku berhasil melawan perasaan takut tak berdasar ini. Jadilah waras, aku!
KENALAN DULU

Namaku Ica, ini tahun 2016 bukan? berarti usiaku kini hampir 22 tahun. Aku anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak tertuaku sudah meninggal dunia tahun 2003, dia laki-laki dan aku rindu! Kakak keduaku perempuan, dan aku memiliki 2 orang adik laki-laki. Aku tinggal di salah satu kecamatan di Indonesia. Aku sekarang melanjutkan sekolahku di salah satu Universitas di daerah Tangerang di jurusan Sastra Inggris, yaa... semoga saja bermanfaat kelak. Doakan.

Aku tinggal bersama keempat saudara kandungku, lengkap dengan kedua orang tuaku. Ibuku keturunan Chinese-Palembang, sedang Ayahku, asli terlahir sebagai orang Sunda. Dan aku, aku kelahiran Tangerang Selatan, berdarah Sunda-Palembang-Chinese. Masa kecilku dibahagiakan oleh kedua orang tuaku juga kakek nenekku, oma opaku dan saudara-saudaraku, tapi masa dewasaku, aku dibahagiakan oleh kawan-kawanku dan Dia, (seseorang yang selalu istimewa bagiku.)

Aku memiliki kekasih yang hubungannya sudah cukup lama kujalanin dengannya. Kira-kira, kini sudah hampir 5 tahun, lah. Kami menjalani hubungan ini dari semasa SMK dulu. Dan kisahnya akan ku ceritakan semampuku di dalam buku ini. Doakan semoga aku tidak lupa bagian-bagiannya.

Akan kumulai dari mana ya ceritanya? Hmm. Tapi sepertinya dari tadi aku sudah memulainya. Hehehe.



PKL

PKL (Praktek Kerja Lapangan) merupakan salah satu kegiatan wajib di SMK, yang juga merupakan salah satu persyaratan untuk lulus dari sekolah kami saat itu. PKL di sekolahku wajib dijalani oleh setiap siswa yang duduk di bangku kelas 2. Saat itu, aku merupakan utusan sekolahku untuk mengikuti kegiatan di tingkat Kota Tangerang Selatan sebagai Paskibraka di tahun 2010. Dan dikarantina sampai pertengahan bulan Agustus tahun itu.

Hari itu hari pertama aku masuk sekolah, setelah menjalani karantina tersebut. Aku kembali ikut kegiatan sekolah seperti biasa, pukul 7.15, aku sudah sampai di sekolah, dan sengaja ingin kuberi kejutan pada teman-temanku akan kehadiranku. Saat itu aku memiliki sahabat dekat, Andin namanya, dia yang paling dekat denganku.

Sesampainya aku dikelas, kami (aku dan Andin) berpelukan dan saling bercerita satu sama lain. Andin bercerita baru saja dia jadian dengan Yoga. Aku turut senang. Hari itu Andin memberitahuku untuk segera mencari Instansi atau Industri yang siap untuk dijadikan tempat PKL. Lalu kutanya Andin, apakah dia sudah memiliki teman untuk PKL bareng.
“Andin, kamu sudah dapat tempat PKL?” tanyaku.
“Sudah, bulan Februari aku sudah mulai PKL.” Jawabnya “tadinya aku mau ajak kamu untuk gabung denganku, tapi aku ragu kamu datang. Jadinya aku ajak Anty”
“Oh begitu ya? Iya. Ya sudah gak apa. Nanti kucari teman yang lain” ujarku. Meskipun sebetulnya sedih tidak bisa berbarengan dengannya nanti. Tapi ya sudah tak apa. Hehehe.

Malamnya aku dan Andin sms-an. Kami saling melepas rindu.
“Kira-kira siapa ya teman yang belum mendapat tempat PKL? Ingin kuajak bareng” tanyaku.
“Hmm ... Coba kamu tanya Iwan. Sepertinya dia masih bingung mau PKL dimana.” Jawab Andin.
“Hm ... begitu ya? Oke nanti ku tanya” ujarku “Kamu lagi apa?”
“Aku lagi sms-an juga nih dengan Fadlan. Dia melucu terus sedari tadi, aku gak bisa berhenti ketawa, hahaha” jawab Andin.
“Fadlan? Teman sekelas kita? Oh kamu dekat ya dengan dia” tanyaku penasaran.
“Lumayan. Dia baik. Oh iya coba kamu tanya dia aja. Dia juga lagi bingung mau PKL ikut siapa.”

Seketika Andin memberiku nomor handphone Fadlan. Tapi aku teringat tadi Andin bilang Iwan pun belum memiliki teman PKL. Dan langsung ku sapa Iwan lewat sms untuk menanyakan PKL. Tetapi Iwan sudah memiliki tempat PKL dengan temannya.

Aku belum sms Fadlan. Karena ku fikir itu sudah larut malam, mungkin bisa kapan-kapan. Kalau ingat.


Keesokan harinya Andin duduk denganku di kelas seperti biasa. Kami mengobrol sambil kusalin mata pelajaran yang tertinggal saat aku mengikuti karantina kemarin, dari buku catatan Andin.

Kemudian Andin tanya sesuatu padaku.
“Gimana? Sudah kamu tanya Fadlan dan Iwan?”
“Aku baru tanya Iwan, belum tanya Fadlan, nanti sajalah, kalau sempat”
“Ya sudah kalau begitu.”
“Iya aku mau ke salah satu Instansi di daerah Setu, mau minta antar Papahku, mungkin besok.”
“Oh begitu? Bagus deh, semoga disana masih bisa ya?!”
“Iya. Do’akan.”
“Iya.”

Lalu kami melanjutkan pelajaran kami dikelas sampai tiba waktu pulang.

Keesokan harinya, aku pergi ke pusat teknologi yang berada di daerah Kecamatan Setu, di Tangsel. Aku tanya ke satpam penjaga, dimana biasanya siswa sepertiku yang ingin PKL mencari tempat PKL. Dan beliau bilang di gedung nomor 102. Lantas aku minta papahku untuk mengantarku mencari gedung bernomor 102.

Sesampainya disana, ternyata aku bertemu dengan salah satu guruku (namun aku belum pernah diajar olehnya) yang  juga bekerja di Instansi tersebut selain beliau menjadi guru di sekolahku.
“Heh, bapak? Bapak kok bisa ada di sini? Tanyaku.
“Iya. Bapak juga bekerja disini, selain ngajar di sekolah, hehehe.” Jawabnya “ mau apa ke sini?”
“oh begitu ya pak?! He he he he. Saya mau tanya, apa bisa saya PKL disini?”
“Bisa!” Jawabnya langsung “Nanti bapak yang bimbing kalau jadi PKL disini.”
“Wah! Senang bisa dibimbing Bapak. Kapan saya bisa PKL di sini pak?”
“Sekarang ini sudah diisi oleh siswa sekolah lain, mungkin Februari hingga Maret baru kamu bisa PKL di sini, ya?!”
“Yes!” (terlalu bersemangat) “Iya pak. Kalau begitu saya minta nomor telepon bapak, boleh?”
“Boleh.”

Beliau adalah Pak Rudi, guru baik hati yang mengajar mata pelajaran komputer di Program Studi manajemen. Tentu saja aku tidak akan diajar olehnya di sekolah, aku kan masuk ke dalam program studi teknik komputer dan jaringan, he he he.

Sebelum aku meninggalkan kantor tersebut, Pak Rudi menyampaikan hal lain kepadaku.
“Oh iya, kalau ada kawanmu yang belum dapat tempat PKL, ajak dia ke mari. Gabung denganmu di sini.”
“Oke pak!” jawabku tegas. “Terima kasih ya, Pak.”
“Iya. Sama-sama.” jawabnya sambil berlalu kembali ke ruang kerjanya

Di jalan pulang, aku jadi terfikir kata Andin kemarin. Dia bilang Fadlan belum ada tempat PKL. Jadi, mungkin sebaiknya, nanti, ku sms dia, untuk kuajak PKL bareng denganku di sana.

Sesampainya aku di rumah, aku langsung istirahat di kasurku. Dan teringaat untuk sms Fadlan untuk mengajaknya PKL bareng. Hari itu sekitar pukul 5 sore.

Dan akupun mulai menyapa dia di sms.
“Hallo? Ini Fadlan ya?”
“Iya. Ini siapa ya?” Tanyanya kebingungan.
“ini Ica, kamu sudah punya teman untuk PKL belum, Fadlan?
“Ica mana ya? Hahahaha temanku yang namanya Ica banyak.” Dia menjawab tapi tidak menggubris pertanyaanku, iya, salahku juga tidak memperkenalkan diriku dengan jelas.
“Oh. hehehe. Maaf ya. Ini Ica temen sekelasmu.” Jawabku lembut. (meskipun tak akan terlihat juga dari sisi mana kelembutannya).
“Oh, kamu! Ku kira Ica yang mana. Hahahaha”
“Hehehe. Jadi bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana? Hahahaha”
“Ih kamu ketawa terus? Memangnya ada yang lucu ya? Itu tawaranku untuk PKL bareng aku, bagaimana?”
“Hahahaha.. aku memang begini orangnya. Maaf ya kalau risih. Hmm ... kayaknya  kamu tadi belum ajak aku deh, kamu kan baru tanya aja. Hehehe.”
“He? Memang ya? Hahaha. Maaf (lagi) aku lupa.” Aku jadi malu, duh. “kalau gitu, kamu mau gak PKL bareng aku? Di salah satu Instansi di saerah Setu.”
“Hmm... gak  apa-apa. Hehehe. Hmm aku juga masih bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Bingung mau ikut yang mana, karena lebih dari tiga orang udah ajak aku bareng mereka, kamu yang keempat! Hahahaha.”
“Hahahaha. Laris ya kamu?!”
“Iya dong! Hahaha. Nanti ku kabari lagi ya, Ca.”
“Oke deh, Lan.”

Aku jadi kefikiran apa yang Andin ucapkan waktu itu, tentang Fadlan. Pantas saja Andin bilang Fadlan itu lucu. Meskipun harusnya itu terlihat aneh bagiku, bukan justru lucu. Gimana tidak? Dia selalu tertawa tiap kali membalas smsku.
“Ah sudah sudah! Kenapa jadi mikirin dia! Biar besok ku sms lagi dia. Untuk ku pastikan apa dia mau ikut PKL denganku atau tidak.”

Aku selesaikan hariku itu, sampai esokan harinya aku kembali ke sekolah. Menemui Andin,dan Anna.

Ku sapa mereka berdua sebelum beranjak dari kursi temanku yang lain untuk kembali duduk di kursiku karena pelajaran akan segera dimulai.

Jam istirahat tiba, dan akupun tetap di kelas karena sedang malas jalan ke kantin sekolah.

Sendirian di ruang kelas buat aku jadi terfikir Fadlan. Ku fikir-fikir, dia tampan juga, hahaha. “Aduh! Kenapa sih aku ini?!”

Omong-omong, dari  teman-teman sekelasku ini, sudah banyak yang ketahuan suka padanya. “Ah! Dia biasa saja! Tidak terlalu menarik. Tapi kenapa banyak yang suka dengannya ya?” “sudahlah tidak usah difikirkan”

Tak lama kulihat teman-temanku beriringan kembali ke kelas, untuk melanjutkan pelajaran hingga jam pulang sekolah.

Dan ketika bel sekolah berdering menunjukan waktu pulang sekolah, aku langsung pulang dengan Anna, karena rumah kami searah.




SMS-AN


Sesampainya aku di rumah, aku langsung beristirahat di kamarku sambil menyantap makan siangku yang sudah disiapkan Mamah.

Lantas teringat aku akan sms Fadlan untuk menanyakan kepastian dia ikut PKL denganku atau tidak. Sebelumnya, akan kuberi tahu, memang kami ini satu kelas, tapi dia selalu berkumpul dengan teman-teman dikelasku yang berkelamin laki-laki. Jadi aku malas kalau harus tanya dia di sekolah. Lagi pula kami tidak dekat, juga tidak pernah ngobrol bareng dimana pun, apapun, dan kapanpun itu secara langsung. Hanya pernah di sms seperti ini.
“Oh iya! Bertele-tele sekali aku ini. Aku sms dia dulu yaa..!”
“Hallo Fadlan.” sapaku di sms.
“Hallo ca!” jawabnya semangat (meskipun aku tidak tahu bagamana bisa aku bilang dia jawab dengan semangat, hahaha. “Ada apa?” lanjutnya.
“Mau tanya soal PKL. Aku di minta Pak Rudi untuk ajak satu atau dua teman untuk bergabung bareng aku, kamu mau?” itu kedua kalinya aku menanawarkan hal yang sama.
“Mau gak yaa?” balasan dia seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Hahaha.”
“Ih? Hahaha.  Jadi mau enggak? Huh!” lama-lama kesal juga. Sabaarrr!
“Hehehe. Aku sudah diajak Arfan dan Ronny lebih dulu, Ca. Maaf ya? Aku gak enak kalau harus nolak ajakan mereka.”
“Oh begitu..? Okelah. Gak apa-apa. Aku juga ditemani dengan anak kelas 2 TKJ 1, dua orang.”
“Oh hehehe. Bagus deh.” jawabnya sambil (mungkin) merasa tidak enak padaku. “Lagi ngapain Ca?”

Membaca kalimat pertanyaan yang diajukan Fadlan, membuatku bingung. Antara menganggap itu pertanyaan lumrah, atau sok akrab ya? Mengingat kita tidak dekat sama sekali. “Tak apalah. Hitung-hitung ada teman mengobrol.”
“Lagi tiduran aja nih. Sendirinya?” jawabku santai.
“Aku lagi sms-an sama kamu, hahaha.”
“Hahaha. Kamu ini bisa saja”

Lalu kami sms-an sampai larut malam. Pastinya tanpa aku sadari kalau hari itu sudah gelap. Sepanjang sore hari hingga larut malam tadi kami terus sms-an sembari sesekali melakukan kegiatan lain seperti makan malam dan mandi yang mengharuskan kegiatan sms-an tersebut ter-skip.

Menurutku, dia orang baik. Dan dia lucu, juga asik. Bahkan sangat asik untuk diajak jadi teman mengobrol. Hehehe. Aku senang  mengobrol dengan dia. Meskipun hanya lewat sms, karena aku malu kalau harus mengajaknya mengobrol di kelas.

Takut karena yang suka sama dia kabarnya ada banyak, dari kelasku. Jadi aku takut membuat mereka yang aku tidak aku ketahui namanya menjadi risih akan sikapku. Jadi lebih baik aku tidak perlu menyapa Fadlan di sekolah.

Itu hanya sedikit pandanganku terhadap Fadlan. Menurutku dia berbeda dengan anak laki-laki yang lain seusianya. Dimana yang lain justru memanfaatkan masa remajanya dengan hal-hal ‘aneh’ cenderung negatif menurutku seperti tawuran antar sekolah, merokok, berjudi dan lain hal. Fadlan justru tidak merokok, dia pernah cerita beberapa tahun setelah kami dekat.
“Kamu pernah merokok?” tanyaku.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu SMP.” Jawabnya “Tapi aku gak  suka. Enggak  enak! Dan aku harus bohong ke ibuku kalau aku merokok waktu itu, karena ibuku enggak tau.”
“Oh begitu... Mau merokok lagi gak?”
“Enggak ah! Gak  punya banyak uang untuk beli rokok. Mending aku makan bubur ayam. Hahaha”
“Hahaha. Dasar kamu.

Dia memang begitu. Hidupnya seperti tak ada beban sedikitpun. Oke lanjut lagi ke cerita tadi.

Fadlan memang beda dari yang lain. Dan setahuku, dia tidak punya pacar deh, untuk sekarang ini. Tapi entahlah. Hehehe.

Semakin lama semakin banyak tanggal di kalender yang mampu aku lalui. Dan sejak itu, aku merasakan hal yang aneh antara aku ke Fadlan. Eh bukan! Tapi antara perasaanku terhadap Fadlan. Iya... Aahh... Aku merasa nyaman mengobrol, bercanda, tertawa, juga menceritakan hal-hal lain tentangku juga tentang dia. Meskipun sebenarnya banyak cerita dari aku dan dia via sms yang aku skip di sini.
“Iya! Aku nyaman. Tidak tahu apakah arti dari kata nyaman ini termasuk ke dalam kategori ‘suka’ atau...” Aku mau tidur.

Besok pagi harus segera kembali ke sekolah, jadi aku harus tidur. Tak apa ya kalau ceritanya kuteruskan besok? Kamu pasti tidak akan mau tanggung jawab kalau aku terlambat besok.
           
Hari ini aku bergegas ke sekolah, tapi sepertinya aku akan terlambat. Dan benar saja! Sesampainya aku di sekolah, gerbang sudah di kunci. Dan aku tidak boleh masuk bersama beberapa siswa yang memang sudah biasa terlambat, lainnya.

Ya sudah mau diapakan lagi? Lebih baik aku ke kantin. Di sekolahku, kalau ada siswa yang terlambat datang, akan di suruh tunggu di luar gerbang sampai mata pelajaran pertama selesai. Tapi tak sedikit yang memilih untuk pulang. Aku sih tidak akan mau pulang. Bukan karena terlalu rajin sekolah, tapi rumahku jauh sekali dari sekolah. Harus dua kali naik angkot.

Jadi lebih baik kalau aku tunggu saja di kantin. Sesampainya di kantin, aku membeli jajanan yang kumakan habis sebelum bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
Ketika di kantin tadi, aku dihampiri guru BP yang baik hati (menurutku) namanya Ibu Sri, Beliau juga mantan wali kelasku waktu aku duduk di kelas 1 SMK.

Beliau menegurku karena aku memakai rok pendek selutut. Disekolahku dilarang memakai rok sebatas lutut bagi siswi perempuan. Kata beliau harus ganti jadi rok panjang.             “Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Kayaknya sedari dulu pun aku sudah memakai rok ini saat beliau masih jadi wali kelasku. Kenapa tiba-tiba jadi ada peraturan aneh ini? Masa aku harus pakai rok panjang dengan baju SMK lengan pendek?? Ih! Siapapun yang memberi ide ini ke kepengurusan sekolah, aku yakin selera fashionnya rendah! Jelaslah tidak pantas jika dicocokan.”
“Iya bu, nanti, besok saya ganti dengan yang panjang. Hehehe.” Untunglah Bu Sri ini baik, meskipun beliau menjabat sebagai guru BP. Tapi beliau sudah CS denganku. Hehehe. Aku murid kesayangannya.

Bahkan saat duduk di kelas 1, aku tidak pernah disebutkan namanya ketika beliau sedang mengabsen nama kami semua di kelasnya, karena menurut beliau, dengan melihatku saja cukup untuk mengabsenku, tanpa harus berteriak memanggil namaku.

Mungkin saat ini beliau masih mengajar di sana. Semoga.

Berhubung kemarin itu hari sabtu, jadi hari ini libur sekolah. Hehehe. Aku senang ini hari minggu. Itu artinya, aku bisa bermalas-malasan seharian di rumah. Hahahaha.
“Hmm, aku jadi kepingin sms Fadlan. Ingin ngobrol dengannya seperti biasa. Tapi malu gak ya kalau aku sms dia duluan? Ah tak apalah. Aku sms aja. Hehehe.”
“Fadlan?”
“Iya? Siapa ya?” jawabnya cepat. “Fadlannya enggak ada. Ada perlu apa?” aku kaget dapat sms seperti itu dari hp Fadlan. Jangan-jangan itu pacarnya?!! Aduh mampus aku!
“Eh maaf. Enggak kok gak ada apa-apa. Maaf ini siapa ya?”
“Ini Fadlan. Hahahaha” menyebalkaaaaaaaaaaaaaann!!!  Membuatku kaget saja dia ini. Harusnya aku sudah biasa dijaili olehnya. Tapi sial kali ini aku kena lagi!
“Heh! Kamu ini. Aku kira siapa. Bikin kaget aja! Hahaha” aku tidak tahu kenapa aku jadi ikut tertawa, padahal harusnya bukan itu yang aku ucapkan. Harusnya kesal.
“Hehehe. Biarin! Biar seru” katanya, santai. “kamu lagi apa, Ca?”
“Aku lagi sebel sama kamu sebenernya, tapi aku malas sebel sama kamu. Jadi aku sekarang lagi nonton tipi aja dirumah.”
“Sambel?”
“Sebel!”
“Oh, sembel,”
“Hahahaha bodo amat!”
“Sebel ngapain? Hahaha. Jangan sebel-sebel sama aku nanti suka loh!”

Heee kok dia bicara begitu? Memangnya teori dari mana kalau aku sebal sama dia bisa jadi suka??
“Gak apa-apa. Hmm. Kamu sendiri lagi apa Lan?”
Eh paling dia mau balas : Lagi sms-an sama kamu, Ca. Hahaha ketebak!
“Aku lagi nafas aja nih, Ca. Takut kelupaan. Hahaha”
“Hahahaha kamu ini melucu terus?“ jadi gemes! Ssstt.. jangan bilang padanya! Hehehe.
“Lucu? Memangnya aku badut?”
“Ih Badut itu serem tau! Sama sekali gak lucu.”
“Badut itu lucu. Kayak nyamuk.”
“Hahaha. Kok nyamuk sih?”
“Tuh buktinya kamu ketawa? Berarti kan nyamuk itu lucu. Hahaha”
“Hahahaha aku tertawa bukan karena nyamuk.”
“Terus karena apa?”
“Kamu.”
“Lah? Aku kan bukan nyamuk.”
“Hahahaha”

Entah sudah hari keberapa ini aku sms-an dengannya. Aaahhh! Aku nyaman dengannya.

Dia asik, seru, menyenangkan, dan selalu menularkan energi positif padaku. Mungkin ini yang dirasakan oleh beberapa orang  yang suka padanya. Tapi aku tidak peduli kalau harus saingan dengan mereka, hahaha. Toh aku juga tidak terlalu berharap untuk jadi pacarnya. Tapi kalau dia dan aku berjodoh, kau mau bilang apa?

Aku sih mau jadi pacarnya, tapi tidak mau bilang duluan, juga tidak mau memaksa. Biar saja seperti ini. Aku nyaman. Hehehe.

Setelah semakin dekat dengannya, aku pun bercerita banyak. Tentangku, keluargaku, tentang sahabat-sahabatku, dll.

Sudah ah! Aku ceritakan dia terus hari ini. Aku mengantuk. Aku tidur dulu ya!

BERSAMBUNG..!!!
Aku cuma butuh dipeluk
Yang aku ingat, di setiap tanggal 1 Januari adalah kebahagiaan. Tapi tidak berlaku hari ini, 1 Januari 2022. Aku akan dapatkan kembali kebahagiaan itu, seutuhnya.

- RD, 2022, Jan 1st.
Jika nanti datang hari dimana aku menarik diri sejauh-jauhnya jarak antara aku dan dirimu, tolong tunggu aku kembali!
Aku pasti kembali.

Erde, 2021
Hei!
Berkaca!
Semua bisa meninggalkanmu sesuka hati mereka!
Jangan kamu kira mereka yang tertawa lepas denganmu hari ini akan selalu ada di sampingmu sampai ajalmu nanti!
Lihat dirimu!
Apakah kamu pantas diperlakukan dengan sangat manis oleh mereka?
Lihat siapa dirimu!
Jangan bermimpi!
Tapi jangan kamu lupakan satu hal ini "apapun yang terjadi, kamu akan baik-baik saja pada akhir cerita. Maka percayalah pada dirimu, kamu mampu bahagia di atas kakimu sendiri! Kamu berhak atas itu!".

- Erde, 2021
Karena aku takut,
Aku takut hal-hal yang mengerikan tersebut terulang!
Aku takut!
Aku takut akan masa depan yang bahkan belum tampak dalam bayang!
Itu semua mengerikan!
Itu semua menakutkan!
Aku pun lelah selalu menutup telinga dan duduk di bawah seolah sedang terjadi petir dalam hujan badai!
Aku ingin lepas dari rasa takutku!
Bantu aku!
Jangan tinggalkan aku sendirian di bawah sini!
Jangan terbiasa membuatku ketakutan!!!!!!!
Dengar!!!
Aku sedang teriakan ini semua kepadamu!!!
Jangan memaki bagai petir!
Kamu menakutiku!!!
Jangan ulangi lagi!
Aku tidak bisa menerima kebohongan apa pun!

Sekarang...
Aku ingin tidur, aku anggap badai ini sama dan akan selesai saat aku terbangun.
Aku ada di sini. Di tempat yang sama seperti biasanya. Aku bisa tunggu kamu sampai 10, tidak, bahkan 100 tahun lagi lamanya. Iya, sampai kamu kembali padaku, akan terus aku tunggu.

- Risiska, 2021
Jangan buat aku terbiasa hidup mandiri
Aku belum terbiasa, namun jika kamu memaksa
Tentu aku bisa untuk terbiasa.

- Erde, 2021